Documentation 2026

Hari Sabtu, 29 Agustus 2026 lalu, KKIA kembali menyelenggarakan acara terbesar masyarakat Indonesia di Selandia Baru, yaitu Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 81, yang lebih dikenal dengan 17an KKIA. Acara berlangsung dengan baik, lancar, dihadiri oleh ribuan warga Auckland dan sekitarnya, bahkan ada yang datang jauh-jauh dari Wellington! Antusiasme masyarakat sungguh luar biasa mengingat cuaca hari itu diselimuti mendung dan hujan, tapi tidak menyurutkan niat warga untuk tetap meramaikan acara tahunan ini. Terima kasih untuk semua yang telah berpartisipasi menyukseskan acara ini, mulai dari panitia, pengisi acara, para vendor, sponsor, dan tentunya seluruh pengunjung yang ikut hadir di Mt Albert War Memorial Hall. Kami tampilkan foto-foto di hari istimewa tersebut, semoga membawa kenangan indah untuk kita semua.


Suasana di Jumat malam, sehari sebelum acara dimulai. Jujur malam itu masih galau, apalagi melihat prakiraan cuaca, katanya hujan 100 persen di hari Sabtu, tapi kami percaya, Tuhan pasti sayang kita semua.

Meja-meja sudah siap terpasang, tapi hati tetap dag dig dug. Doa yang kencang malam itu, bersama dengan team panitia, dan juga 4 orang Romo yang hadir.

Team panitia yang kerja keras malam itu, mulai dari siapkan dekorasi, pasang saluran listrik, pasang sound system, setting up ruangan,  sekalian gladi bersih juga untuk para peserta. Senang sekali malam itu ada Romo Roy, Romo Rivan, Romo Mans, dan Romo Karel ikut membantu dan berdoa bersama kami.


Pagi itupun tiba, Sabtu, 29 Agustus, acara yang kami persiapkan berbulan-bulan, akhirnya tiba juga. The show must go on, rain or shine! Ada beberapa posisi yang harus pivot sedikit, semua demi kebaikan dan kelancaran acara. Vendor pun mulai berdatangan untuk bersiap-siap.

Ketua Sie Bazaar, Ibu Karina, ikut jadi tukang parkir untuk food truck nih! Totalitas kan kalau jadi panitia.

Pasang tenda, bawa perlengkapan.

Tukang minumannya KKIA juga sudah pasang senyum nih!

Tukang minuman posisi satu lagi yang manis-manis.

Siap-siap numpukin dagangan.

Totalitas sampai bikin cetak kaos nih!

Tukang martabak siap beraksi.

Celemeknya polkadot, manis sekali.

Luar biasa ini gerobak bakso nyampe ke Auckland!

Pasangan Pempek.

Pasangan Kue Nastar.

Jajanan warna warni macem pelangi.

Kue-kue basah menggugah selera!

Nasi Padangnya ready!

Comfort food yang anget-anget ada di sini.

Yang empuk-empuk lembut ada di sini.

Sekitar pukul 8:50 pagi, duet MC kita menyapa penonton. Kali ini, Ibu Leony bawa pasangan yaitu Ibu Nestri, biar tambah rame kayak ibu-ibu kompleks lagi arisan.

Menuju pukul 9 pagi, kita hitung mundur... semua tenang... lalu bersiap upacara bendera. 

Penghormatan kepada pemimpin upacara.

Pengibaran Sang Saka Merah Putih. 

Hormat kepada Bendera Merah Putih.

Diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Seluruh peserta ikut bernyanyi dan menghormati bendera.

Momen seperti ini, rasanya pingin nangis, bisa merayakan upacara di negara lain.

Tua muda bersatu dalam suasana penuh haru tapi penuh semangat.

Mengheningkan cipta, kali ini lebih syahdu dengan iringan saxophone dari Abby.

Pembacaan Pancasila oleh Pembina Upacara yaitu Bapak Leo.

Menyanyikan lagu wajib Garuda Pancasila dan Hari Merdeka, diiringi musik angklung dari teman-teman Sabilulungan Family.

Lengkap dengan pemain bandnya dong! Keren yah.

Suasana Mt Albert War Memorial Hall yang khidmat saat upacara berlangsung.

Penghormatan kepada Pembina upacara, artinya upacara sudah hampir selesai.

Yay! Upacara sudah selesai, terima kasih ke teman-teman PPIA yang sudah jadi petugas upacara. PPIA keren sekali!

Dewan Pastoral KKIA Bapak Johanes dan Bapak Fredy berfoto bersama teman-teman KBRI Wellington, Bapak Lucky Saud dan Bapak Budi Putra.

Teman-teman harmoni dari Sabilulungan Family.

Kata sambutan dari Bapak Leo sebagai Ketua Panitia 17an KKIA tahun 2026 ini. Sudah lebih relax dan bisa senyum sehabis upacara ya Pak.

Sambutan perwakilan KBRI Wellington, Bapak Lucky Saud. Terima kasih sudah hadir ya Pak!

Upacara sudah selesai, berarti vendor-vendor bisa mulai berjualan. Langit nampak mendung.

Teman-teman PPIA yang baru selesai bertugas. Terima kasih ya!

Ayo dibeli dibeli dibeli!

Penampilan perdana dari Sabilulungan Junior yang imut-imut dan pintar-pintar.

Mereka membawakan lagu Satu Nusa Satu Bangsa, dan Maju Tak Gentar.

Dilanjutkan dengan Angklung Interaktif yang mengajak seluruh penonton untuk ikut bermain angklung bersama.

Romo Karel dan Romo Mans ikut bergabung.

Seru juga ternyata main angklung bareng.

Ibu Maria selaku dirigen Sabilulungan Family dibantu oleh Ibu Leony, memperagakan bagaimana cara bermain angklung.

Kita main angklung bersama, lagu Rayuan Pulau Kelapa.

Drummer kita ikut beraksi.

Wah ada yang excited banget! Seseru itu main angklung!

Yang junior, gemes - gemes semua.

Sabilulungan Family membawakan dua lagu lagi yaitu: Gemufamire dan Ayo Mama.

Lilly Balinese Dancer, khusus datang dari Whangarei, kira-kira dua jam dari Auckland.

Beliau membawakan tari Merak Bali.

Sudah menari dari SD, Lilly sangat-sangat piawai, dan kostumnya cantik sekali!

Teman-teman Mutiara Cenderawasih, datang langsung dari IPU Palmerston North, lebih kurang 5 jam jaraknya jadi Auckland! Luar biasa dedikasinya.

Mereka membawakan Tari Kreasi Papua, menggambarkan kecintaan mereka pada tanah air.

Kami sungguh bangga dan merasa terhormat dengan kehadiran teman-teman dari Mutiara Cenderawasih. Bravo!

Suasana di balik panggung, sungguh warna warni dengan berbagai budaya Indonesia. Indah sekali!

Warna Indonesia yang terdiri dari Laura, Niken dan Gea, selalu memberi warna tersendiri di 17an KKIA setiap tahunnya.

Kali ini mereka membawakan Tarian Kembang Kipas Betawi.

Tarian ini menggambarkan perempuan Indonesia yang walaupun cantik dan anggun, tapi tetap harus kuat, perkasa, dan mampu melindungi diri, seperti seorang pendekar.

Parsahutaon NZ, kali pertama tampil di panggung 17an KKIA.

Dibuka dengan nyanyian yang menyentuh kalbu.

Dilanjutkan dengan Manortor, khas Sumatra Utara!

Musik yang seru dan menghentak.

Mengajak kita semua untuk bergoyang menikmati irama lagu.

Kali pertama setelah sekian tahun, 17an KKIA mengadakan lomba fashion show anak-anak. Dan inilah juri kita, Ibu Karina dan Romo Mans yang datang dari Melbourne. Dipilih yang fashionable dong ya juri-jurinya.

Cantik dengan baju adat Bali.

Baju adat Sulawesi Selatan.

Yang ini dari Sumatera Utara.

Yang ini dari Jawa Tengah nih.

Dari Kalimantan.

Loh ada anak SD!

Ini ada lagi anak SDnya!

Loh loh ada lagi, nggak habis-habis...

Dan yang ini yang paling imut.

Kebaya modifikasi, jalan dengan penuh percaya diri.

Ini juga cantik sekali, dan pede banget!

Semuanya keliling dulu sambil dadah-dadah ke penonton yang hadir.

Dan inilah pemenang pertamanya! Selamat yaaa!

Deretan seluruh peserta, semuanya dapat hadiah! Hebat-hebat banget semuanya, dan berani!

Tinggal kurang mamanya aja nih, semuanya ikutan jadi murid SD, dan bapaknya jadi murid SMA.

Ganteng dan cantik banget! Selamat ya sudah berani tampil.

Sementara itu, di lapangan, transaksi terus berjalan.

Ada yang ngintip-ngintip sambil melayani pembeli.

Ada yang sibuk milih jajanan.

Cendol dawet, cendol dawet!

Tahu gemoy gemoy dalam kukusan.

Transaksi jalan terus, show juga jalan terus!

Eh ada yang sadar kamera!

Hujan-hujan enaknya memang makan bakso.

Sambel pedes, bikin merem melek.

Siapa yang kangen bacang? Ada loh di sini!

Nomer rekening terpampang nyata, silakan yang mau transfer hiihihi...

Tukang asinan legend nih...

Makan nasi kuning sambil nonton show, maknyus!

Ayo pada ngetawain apaaaa?

Gorengan pempek.. jossss!

Sementara di panggung, Zumba with Bea, selalu bikin kita bergoyang!

Selalu semangat dan enerjik!

Seru banget lihat pesertanya.

Sanggar Pertiwi is back! Tahun ini mempersembahkan dua tarian. Tarian pertama adalah Tarian Mamiri.

Tarian ini menggambarkan kerinduan menantikan pasangan yang sedang berlayar.

Begitu indah dengan gerakan koordinasi kipas yang cantik sekali.

Mutiara Cenderawasih kembali lagi ke panggung. Luar biasa tariannya keren!

Lomba anak-anak selalu ditunggu, dan kali ini kita punya Balap Kelereng.

Pesertanya sungguh antusias.

Ayo-ayo, jangan sampai jatuh!

Dan inilah para pemenangnya!

Wuihhhh luar biasa yang nonton banyak bangetttt!!

Kita lanjut ke permainan favorit, Makan Kerupuk!

Serius-serius banget mukanya!

Semangatttt!

Biar paling kecil, tetap antusias!

Menang gak menang, yang jelas dapat krupuk!

Dan inilah para pemenangnya!

Cuaca di luar hujan deras, tetapi tidak menyurutkan semangat pengunjung. Makan di bawah hujan? No problem!

Tahun ini kita kedatangan Balinese Street Food, yang datang dari Whangarei dengan food trucknya.

Suatu kehormatan besar bagi KKIA, Ibu Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Ibu Fientje Maritje Suebu, berkesempatan hadir di acara 17an KKIA. Bahkan ibu ikut berkeliling menyapa pedagang di luar hall walaupun cuaca hujan. Love you, Ibu!

Ibu Dubes foto bareng dengan Bang Yulius dari Warung Jupe.

Ini lagi contoh makan sambil hujan-hujanan. Yang penting hepi ya kannnn?

Ngopi Night menghentak dengan goyang poco-poco, sambil mengajak penonton bergoyang!

Asyik banget Bang Umbu!

Goyang terusssss! Tarik Bang!

Bang Riki nggak tahan dia, ikut turun panggung.

Tak peduli apapun latar belakang suku dan budaya, semua ikut Poco-Poco!

Bona Pasogit NZ yang selalu meriah penampilannya.
 
Mereka kembali lagi dengan Manortor dan Bernyanyi.

Ibu Dubes kembali ke dalam setelah berkeliling menyapa warga Auckland.

Sudah mau pamit, distop dulu oleh Bona Pasogit NZ, foto bareng yuk Bu!

Lanjut bernyanyi....

Nggak lupa sawerannya dong! Seru benerrrr!

Tarian kedua Sanggar Pertiwi, Tari Runtah.

Tarian ini itu artinya simpel. Jadi perempuan itu, cantik boleh, tapi jangan bego yaaaa! Tuh camkan!

Asyik banget geol geolnya, mantap!

Lomba selanjutnya untuk dewasa, yaitu lomba bakiak.

Sudah diingatkan kalau ini high risk high return game... belum apa-apa udah ada yang nyungsep hahaha.

Kalau pasangan mah enak ya, peluk-pelukan no problem gitu yak!

Grup ini aman, nggak ada yang nyungsep.

Slowly but sure aja dia tuh...

Kawanua NZ, mewakili Sulawesi Utara membawakan tarian Si Patokaan.

Tarian ini menggambarkan kasih sayang seorang ibu yang melepaskan anaknya menuju rantau. Kebayang ya saat orang tua melepaskan kita berjuang di negeri orang.

Lomba pamungkas yang selalu dinanti, lomba tarik tambang. Kalau mau lihat muka-muka orang ngeden, di sinilah tempatnya.

Itu yang belakang sendalnya sampe copot woi!

Muka nahan mules ini namanya...

Udah senyum dia... udah tau bakalan menang nih....

Tuh kan bener grup sayap kanan yang menang. Nih bagi-bagi yak hadiahnya!

St Andrew's Group, tampil memukau dengan Senandung Nusantara.

Orangnya cantik-cantik, suaranya juga merdu. Pemain musiknya juga ganteng-ganteng (biar gak ketinggalan disebut yah hihihi).

Mereka membawakan tembang dari Sabang sampai Merauke.

Kawanua NZ, menutup acara hari ini dengan Tarian Ambon Manise dan Sajojo.

Dengan pakaian adat Papua, ikut mengajak seluruh penonton bergoyang.

Kapan lagi kaaannn...

Terima kasih teman-teman Kawanua NZ, dan tentu terima kasih untuk seluruh pengisi acara hari ini! Luar biasa!

Tepat di pukul 2.02 PM, seluruh rangkaian acara Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke 81 oleh KKIA berakhir.

Terima kasih juga atas kehadiran dan dukungannya, Atase Pertahanan RI, Bapak I Made Sudiana beserta keluarga, yang juga membantu koordinasi kawan-kawan dari Mutiara Cenderawasih.

Dan inilah kami, Panitia 17an KKIA 2026. Senyum bahagia tampak di wajah kami karena acara yang telah kami rencanakan akhirnya bisa berjalan dengan lancar. Cuaca boleh tidak bersahabat, tapi penyertaan Tuhan sungguh luar biasa!

Bebas lepas, penuh sukacita! Itulah yang namanya kerja dari hati!

Sampai bertemu lagi di Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-82 tahun 2027! Tuhan memberkati kita semua!